IKUT SALAH SATU MADZHAB EMPAT

:: IKUT SALAH SATU MADZHAB EMPAT ::

Sayyid ‘Ali Al-Khowwas rahimahullah pernah ditanyai oleh seseorang mengenai hukumnya mengikuti suatu madzhab tertentu dalam beragama. Saya tambahkan penjelasan agar jelas, misalnya, madzhab syafi’i, hanafi, maliki, maupun hambali. Apakah bermadzhab itu wajib? Apakah boleh mengambil hukum langsung dari Al Qur’an dan hadits? Apakah bermadzhab itu bukaannya justru menjauhkan dari Allah dan Rasul-Nya karena “hanya” mengikuti pendapat ulama?

Jawaban dari beliau adalah “Ya”. “Wajib”. “Anda wajib mengikuti suatu madzhab selama Anda belum sampai mengetahui inti dari syari’at agama islam (maksudnya belum tuntas mempelajari Al Qur’an dan hadits nabi beserta segala keilmuannya) karena dikhawatirkan terjatuh pada kesesatan”. Keterangan dari kitab Al-Mizan As-Sya’rani.

Sementara dalam kitab Al-Fatawi Al-Kubro diterangkan, “Sesungguhnya mengikuti suatu madzhab (pada masa pengarang kitab tersebut, apalagi masa kini) hanya boleh kepada imam yang empat (Maliki, Syafi’i, hanafi, Hambali) dikarenakan madzhab mereka sudah tersebar luas sehingga nampak jelas pembatasan hukum yang bersifat mutlak dan pengecualian hukum yang bersifat umum, berbeda dengan madzhab-madzhab yang lain”.

Hal itu sesuai dengan sabda nabi SAW: “Ittabi’uu As-Sawaada Al-A’dzoma”, ikutilah mayoritas (umat islam). Ketika madzhab-madzhab yang benar telah tiada disebabkan wafatnya para imam mereka. Madzhab yang benar yang tersisa tinggallah empat madzhab yang pengikutnya tersebar luas di seluruh penjuru dunia. maka mengikuti salah satu dari empat madzhab tersebut berarti mengikuti mayoritas umat islam. Sebaliknya, keluar dari empat madzhab tersebut berarti keluar dari mayoritas. Artinya, melanggar sabda nabi SAW.

Jadi, bermadzhab itu wajib. Sedangkan langsung mengambil hukum dari Al-Qur’an dan hadits sebenarnya boleh selama mampu. Namun, mengikuti ulama madzhab tentu lebih selamat dikarenakan beliau berfatwa sesudah tuntas dalam memahami syari’at. Mereka lebih dekat masanya kepada Nabi dibanding kita. Mereka lebih alim dan lebih berhati-hati dari pada kita. Lagi pula para alim ulama di segenap penjuru zaman ini hampir semuanya merasa tidak mampu apalagi menandingi kealiman para ulama salafussolih tersebut. Maaf, apalagi kita. Para ulama itu bermadzhab kepada empat madzhab.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita lebih alim dari pada para guru alim ulama kita apalagi para ulama mujtahid empat tersebut? Sebenarnya, kita bermadzhab itu juga mengikuti Al Qur’an dan hadits dengan cara yang lebih selamat dibanding kita memahaminya sendiri. Tapi, membaca dan terus belajar Al Qur’an, hadits dan semua keilmuannya tetaplah suatu keniscayaan bagi setiap muslim. Dan, tentunya, saya tetap menghormati serta menghargai pendapat saudaraku muslimin yang tidak mau bermadzhab. Wallahu a’lam bis-showab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s